A.
UNSUR
UNSUR YANG MEMBANGUN MANUSIA
Manusia di alam dunia ini memegang peranan
yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi. Dalam ilmu eksakta, manusia
dipandang sebagai kumpulan dari partikel atom yang mebentuk jaringan sistem
yang dimiliki manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai
sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari
energi (ilmu fisika), manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam
golongan makhluk mamalia (ilmu biologi). Dalam ilmu sosial, manusia merupakan
makhluk yang ingin mendapatkan keuntungan atau selalu memperhitungkan segala kegiatan,
sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan makhluk sosial
yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), makhluk yang ingin memiliki
kekuasaan (politik), makhlik yang berbudaya, sering disebut homo humanus
(filsafat).
Dua pandangan yang menjelaskan tentang unsur-unsur manusia :
·
Manusia terdiri dari 4 unsur
1. Jasad : badan kasar manusia yang
nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto, dan menempati ruang dan waktu.
2. Hayat : mengandung unsur hidup, yang
ditandai dengan gerak.
3. Ruh : bimbingan dan pimpinan Tuhan,
daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan
menciptakan yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
4. Nafs : kesadaran diri sendiri.
·
Manusia sebagai satu kepribadian mengandung 3 unsur
1. Id, merupakan struktur kepribadian
yang paling primitif dan paling tidak nampak.
2. Ego, merupakan struktur kepribadian
yang diatur oleh prinsip realitas.
3. Superego, Merupakan kesatuan
standar-standar moral yang diterima oleh ego.
B. Hakekat Manusia
1. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri
dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
2. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling
sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Perasaan rohani yang hanya dimiliki manusia :
1. Perasaan intelektual
2. Perasaan estetis
3. Perasaan etis
4. Perasaan diri
5. Perasaan sosial
6. Perasaan religius
7. Makhluk biokultural, yaitu makhluk
hayati dan budayawi.
8. Makhluk ciptaan Tuhan yangterikat
dengan lingkungan, mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan
berkarya.
C.
KEPRIBADIAN
BANGSA TIMUR
Manusia merupakan makhluk sosial
yang tidak dapat berdiri sendiri. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk
dapat berinteraksi dan bertahan hidup. Hal tersebut benar – benar dianut oleh
masyarakat pada bangsa timur terutama Indonesia. Rasa kebersamaan yang kuat bisa
dibilang sebagai kepribadian bangsa. Segala sesuatu yang terdapat di dalam
masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Di
Indonesia banyak sekali kebudayaan dan kepribadianyang ada, karena seperti yang
kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku sehingga dengan sudah
sangat pasti kebudayaannya pun berbeda.
Sistem ideologi yang ada biasanya
meliputi etika, norma, adat istiadat, peraturan hukum yang berfungsi sebagai
pengarahan dan pengikat perilaku manusia atau masyarakat agar sesuai dengan
kepribadian bangsa yang sopan, santun, ramah, dan tidak melakukan hal – hal
yang dapat mencoreng kepribadian bangsa. Sistem sosial meliputi hubungan dan
kegiatan sosial di dalam masyarakat. Sistem teknologi meliputi segala perhatian
serta penggunaanya, sesuai dengan nilai budaya yang berlaku. Pada saat
unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi
besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut.
Pada dasarnya masyarakat daerah timur
dengan contoh Indonesia, sangat terbuka dan toleran terhadap bangsa lain,
tetapi selama masih sesuai dengan norma, etika serta adat istiadat yang ada di
Indonesia. Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah
unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai
dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya. Contohnya :
Handphone, komputer, dan lain – lain.
Namun ada pula unsur-unsur
kebudayaan asing yang sulit diterima adalah misalnya :
1. Unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah
hidup dan lain-lain.
2. Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh
yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat.
3. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat
menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi.
Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima
unsur baru.
4. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada
kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan
diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Berbagai faktor yang mempengaruhi
diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :
1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan
dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2. Jika pandangan hidup dan nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan
ditentukan oleh nilai-nilai agama.
3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan
kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan
baru.
4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur
kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru
tersebut.
5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas.
D. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan adalah hasil karya manusia
dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan
taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta
sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai
perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam
proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan
bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam definisi ini,
kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme kontrol" bagi kelakuan dan
tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau sebagai "pola-pola bagi
kelakuan manusia" (Keesing & Keesing, 1971). Dengan demikian
kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep,
rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian
model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang
memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
Kebudayaan merupakan pengetahuan
manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang
diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta
menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu
yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal
ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang
sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada
etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia (Geertz, 1973b).
Kebudayaan yang telah menjadi sistem
pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada rangsangan,
digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa,
dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang
dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di mana dia hidup.
Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat
tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus
saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka
sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka pertahankan.
Pemahaman ini dimungkinkan oleh
adanya kesanggupan manusia untuk membaca dan memahami serta menginterpretasi
secara tepat berbagai gejala dan peristiwa yang ada dalam lingkungan kehidupan
mereka. Kesanggupan ini dimungkinkan oleh adanya kebudayaan yang berisikan
model-model kognitif yang mempunyai peranan sebagai kerangka pegangan untuk
pemahaman. Dan dengan kebudayaan ini, manusia mempunyai kesanggupan untuk
mewujudkan kelakuan tertentu sesuai dengan rangsangan-rangsangan yang ada atau
yang sedang dihadapinya.
Sebagai sebuah resep, kebudayaan
menghasilkan kelakuan dan benda-benda kebudayaan tertentu, sebagaimana yang
diperlukan sesuai dengan motivasi yang dipunyai ataupun rangsangan yang
dihadapi. Resep-resep yang ada dalam setiap kebudayaan terdiri atas serangkaian
petunjuk-petunjuk untuk mengatur, menyeleksi, dan merangkaikan simbol-simbol
yang diperlukan, sehingga simbol-simbol yang telah terseleksi itu secara
bersama-sama dan diatur sedemikian rupa diwujudkan dalam bentuk kelakuan atau
benda-benda kebudayaan sebageimana diinginkan oleh pelakunya. Di samping itu,
dalam setiap kebudayaan juga terdapat resep-resep yang antara lain berisikan
pengetahuan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai
sesuatu dengan sebaik-baiknya, berbagai ukuran untuk menilai berbagai tujuan
hidup dan menentukan mana yang terlebih penting, berbagai cara untuk
mengidentifikasi adanya bahaya-bahaya yang mengancam dan asalnya, serta
bagaimana mengatasinya (Spradley, 1972).
Dalam pengalaman dan proses belajar
manusia, sesungguhnya dia memperoleh serangkaian pengetahuan mengenai
simbol-simbol. Simbol adalah segala sesuatu (benda, peristiwa, kelakuan atau
tindakan manusia, ucapan) yang telah ditempeli sesuatu arti tertentu menurut
kebudayaan yang bersangkutan. Simbol adalah komponen utama perwujudan
kebudayaan karena setiap hal yang dilihat dan dialami oleh manusia itu
sebenarnya diolah menjadi serangkaian simbol-simbol yang dimengerti oleh
manusia. Sehingga Geertz (1966) menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah
suatu sistem pengetahuan yang mengorganisasi simbol-simbol. Dengan adanya
simbol-simbol ini kebudayaan dapat dikembangkan karena sesuatu peristiwa atau
benda dapat dipahami oleh sesama warga masyarakat hanya dengan menggunakan satu
istilah saja.
Dalam setiap kebudayaan, simbol-simbol
yang ada itu cenderung untuk dibuat atau dimengerti oleh para warganya
berdasarkan atas konsep-konsep yang mempunyai arti yang tetap dalam suatu
jangka waktu tertentu. Dalam menggunakan simbol-simbol, seseorang biasanya
selalu melakukannya berdasarkan aturan-aturan untuk membentuk, mengkombinasikan
bermacam-macam simbol, dan menginterpretasikan simbol-simbol yang dihadapi atau
yang merangsangnya. Kalau serangkaian simbol-simbol itu dilihat sebagai bahasa,
maka pengetahuan ini adalah tata bahasanya. Dalam antropologi budaya,
pengetahuan ini dinamakan kode kebudayaan
E. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
suatu kebudayaan tidak akan pernah ada
tanpa adanya beberapa sistem yang mendukung terbentuknya suatu kebudayaan,
sistem ini kemudian disebut sebagai unsur yang membentuk sebuah budaya, mulai
dari bahasa, pengetahuan, tekhnologi dan lain lain. semua itu adalah faktor
penting yang harus dimiliki oleh setiap kebudayaan untuk menunjukkan eksistensi
mereka.
- Bahasa : yaitu suatu sistem perlambangan yang
secara arbitrel dibentuk atas unsur – unsur bunyi ucapan manusia yang
digunakan sebagai gagasan sarana interaksi
- Sistem pengetahuan : yaitu semua hal yang
diketahui manusia dalam suatu kebudayaan mengenai lingkungan alam maupun
sosialnya menurut azas – azas susunan tertentu
- Organisasi sosial : yaitu keseluruhan sistem yang
mengatur semua aspek kehidupan masyarakat dan merupakan salah satu dari
unsur kebudayaan universal
- Sistem peralatan hidup dan tekhnologi : yaitu
rangkaian konsep serta aktivitas mengenai pengadaan, pemeliharaan, dan
penggunaan sarana hidup manusia dalam kebudayaannya
- Sistem mata pencarian hidup : yaitu rangkaian
aktivitas masyarakat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam
konteks kebudayaan
- Kesenian : yaitu suatu sistem keindahan yang
didapatkan dari hasil kebudayaan serta memiliki nilai dan makna yang
mendukung eksistensi kebudayaan tersebut
- Sistem religi : yaitu rangkaian keyakinan
mengenai alam gaib, aktivitas upacaranya serta sarana yang berfungsi
melaksanakan komunikasi manusia dengan kekuatan alam gaib
F. WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut J.J. Hoenigman (dalam
Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,
aktivitas, dan artefak.
- Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan
adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai ,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak ; tidak dapat
diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala
atau di alam pemikiran warga masyarakat . Jika masyarakat tersebut
menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari
kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para
penulis warga masyarakat tersebut.
- Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud
kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini
terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi ,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola
tertentu yang ber- dasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret , terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
- Artefak (karya) Artefak adalah wujud kebudayaan
fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia
dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba,
dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga
wujud kebudayaan.
Pada kenyataannya, kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang
satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh:
wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas)
dan karya (artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat
digolongkan atas dua komponen utama, yaitu kebudayaan material dan kebudayaan
non- material. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang
nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan
yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat,
perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup
barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah
ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa
dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
G. ORIENTASI NILAI BUDAYA
Marilah kita menyadari, kebudayaan bukanlah kreasionisme.
Kebudayaan melakukan banyak penyimpangan dari desain besar yang ingin
mengendalikannya. Sudah saatnya menganggap selesai perdebatan tentang orientasi
utama dan bentuk terakhir kebudayaan Indonesia. Setiap orang secara potensial
adalah pencipta kebudayaan (NIRWAN DEWANTO, Senjakala Kebudayaan, Yayasan
Bentang Budaya 1996)
Dari
pernyataan tersebut di atas, sesungguhnya kita sedang digugah untuk menyadari
bahwa desain besar kebudayaan kita sedang dalam kondisi kritis. Sebagai contoh,
kebudayaan tradisional yang agung (High Culture) telah terkalahkan oleh budaya
modern (Dinamice Culture) yang didukung oleh sains dan teknologi. Kebudayaan
yang mendunia (baca globalisasi) sekarang pun terbukti mengalami krisis karena
telah gagal mensejahterakan masyarakat secara umum. Kebudayaan modern, meskipun
telah banyak kemajuan di bidang sains dan teknologi, namun secara ekonomi hanya
menguntungkan pihak tertentu saja, dalam hal ini kapitalislah yang diuntungkan
sebagai produsen dan pemilik sumber kebudayaan modern yang cenderung
mempengaruhi dan mengusai kebudayaan dunia.
Maka
menjadi wajar kebudayaan modern melahirkan kebudayaan destrukrif misalnya
berupa demonstrasi, bahkan anarkis menjadi bagian kebudayaan orang-orang yang
merasa dirugikan (contoh : demo buruh dan karyawan menuntut perbaikan upah
untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraannya). Kesejahteraan buruh sangat ditentukan
oleh kepemilikan kapital (kebudayaan materialisme). Maka peran pemerintah
sebagai penentu kebudayaan yang seharusnya mensejahterakan rakyat menjadi
bergeser sebagai penjaga keamanan, ujung-ujungnya demi capital juga pemerintah
melakukan represi dan penindasan kepada rakyat yang tidak menguntungkan
kebijakannya. Pemerintah menjadi agen bagi pemilik modal raksasa (baca: ekonomi
sebagai panglima), misalnya dalam kasus Freeport dan masyarakat Timika yang
terbelakang pendidikannya.
Pendidikan Pasar
Paradigma
kebudayaan modern telah menjadikan dunia spiritual termasuk seni dan agama
cukup sebagai komoditi yang perlu diperhitungkan dengan nilai harga jualnya.
Pendidikan mahal menjadi keniscayaan karena kebutuhan sarana dan prasarana
menjadi penting, termasuk pula teknologi pendidikan menjadi ukuran kualitas
lembaga pendidikan yang mendunia. Keberhasilan transformasi ilmu guru kepada
murid juga diukur dari penguasaan peralatan mengajar yang digunakan gurunya.
”Globalisaasi”,
Dulu notebook bermakna buku sekarang bermakna laptop, artinya teknologi telah
mampu merubah makna kata dari pemahaman konsumennya. Pemahaman konsumen
ternyata mudah dibentuk oleh produsen atau bahasa lokal telah dikalahkan oleh
bahasa global. Dalam konteks kebudayaan, bahasa Indonesia telah tercerabut dari
akarnya dan selanjutnya image kepada guru yang tidak menguasai teknologi
dianggap ketinggalan, atau mungkin diragukan kemampuan mengajarnya. Maka
sekolah atau lembaga pendidikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melatih
guru-guru menggunakan teknologi modern.yang belum tentu bisa, karena tidak
memiliki perangkat sendiri yang mahal harganya. Apalagi guru-guru “tradisi”
seperti Umar Bakri (simak lagu ciptaan Iwan Fals). Mungkin lebih tepat
guru-guru melagukan Song theme “Hous For Sale” By Bule.
Kebudayaan Alternatif
Namun
untuk kembali ke tradisi sudah tidak mungkin lagi, kecuali mencari pijakan
kebudayaan pendidikan baru yang dinamis namun tidak bergantung pada biaya
tinggi. Pembelian produk teknologi yang berkembang cepat dan menuntut konsumen
untuk terus mengikuti, tentu saja berat kecuali Indonesia menjadi negara
produsen teknologi tinggi. Untuk ini kita tidak bisa percaya pada ramalan para
ahli globalisasi. Di dalam zaman kita ini, kenyataan bukanlah hal yang mudah
ditangkap. Kenyataan adalah fragmentasi dari kebudayaan yang telah
terbelah-belah oleh kekuatan ekonomi (mass culture). Dalam hal ini, selera
pasar menjadi penting untuk diperhitungkan lagi. Kesejahteraan guru haruslah
dilihat sebanding dan sejajar dengan pendapatan selebrities.Tujuan kebudayaan
tak lain untuk kemajuan dan kesejahteraan hidup manusia di mana saja dan
sebagai apa saja. (Surat kepercayaan gelanggang 1960: Kami adalah pewaris sah
kebudayaan dunia).
Sejuta Milyar Satuan
Kawan,
peran apa yang kau berikan untuk mengisi kemerdeekaan ini?
Pernyataan
puitis tersebut di atas, mempertegas bahwa posisi kebudayaan sesungguhnya
berada pada diri kita masing-masing sebagai pelaku (seleksi terhadap pengaruh
asing dalam lingkup “kebudayaan”). Kebudayaan saling-silang (baca kebudayaan
tarik-ulur) lalu melahirkan kebudayaan post-modern yang muncul dan kemudian
dianggap gagal karena merancukan keyakinan beragama bagi masyarakat (umat)
penganutnya. Oleh karena itu, sebagai jawaban kita pasti bersepakat dengan
Islam, misalnya ayat 136 surat Al Baqarah yang jelas menyatakan:
Katakanlah
:”Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami Ismail,
Ishak, Yakub dan anak cucunya (kami beriman) kepada apa yang diberikan kepada
Musa dan Isa dan kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari tuhanNya. Kami
tiada membeda-bedakan satu dari lainnya dari antara mereka dan kami menyerahkan
diri kepada Allah”.
H. PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Pengertian perubahan kebudayaan adalah
suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian diantara
unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak
serasi fungsinya bagi kehidupan.
Contoh :
Masuknya mekanisme pertanian mengakibatkan hilangnya beberapa jenis teknik
pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik
“Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi
jadi kehilangan pekerjaan.
Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang
tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam
masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian,
ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga
aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus
tergantung dari dinamika masyarakatnya.
Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:
Mendorong
perubahan kebudayaan
- Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki
potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi (
kebudayaan material).
- Adanya individu-individu yang mudah menerima
unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda.
- Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam
yang mudah berubah.
Menghambat
perubahan kebudayaan
- Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki
potensi sukar berubah seperti :adat istiadat dan keyakinan agama (
kebudayaan non material)
- Adanya individu-individu yang sukar menerima
unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot.
- Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya perubahan kebudayaan :
Faktor intern
Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah,
akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, c/o:
bidang perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan
pangan, sandang, dan papan.
Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam
suatu masyarakat. c/o: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan
penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah
mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para
transmigran.
Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan c/o;
bencana banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan
dipindahkan ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan
kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun
akulturasi.
- Perubahan lingkungan alam
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai
yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga
membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini
disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan
setempat.
Faktor ekstern
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur
Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan
pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya
mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan
percampuran budaya yang ada.
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan
proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya
unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan
kolonialisme.
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras
dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsure-unsur
budaya bangsa asing ke Indonesia.
I.
KAITAN
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal
yang sangat erat berkaitan satu sama lain. Manusia di alam dunia inimemegang
peranan yang unik, dan dapat dipandang dari berbagai segi. Dalam ilmu sosial
manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu
memperhitungkan setiap kegiatan sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi).
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosialofi),
Makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik), makhluk yan g
berbudaya dan lain sebagainya.
Contoh Hubungan
Manusia dan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia
sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan
manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya ?
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal,
maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan setclah kebudayaan itu tercipta
maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dcngannya. Tampak baliwa
keduanya akhimya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat
kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan –
peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh
manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh
kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu
merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu
kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang
membuatnya.Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaan manusia,
dia akan menjadi terasing atau tealinasi (Berger, dalam terjemahan
M.Sastrapratedja, 1991; hal : xv)
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu
mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada kondisi sekarang
ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau
kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya hams menyertakan pembatasan
masalah dan waktu agar penganalisaan dapat dilakukan dengan lebih cermat.
Pengertian
Dialektis
Dialektika disini berasal dari dialog komunikasi sehari-hari. Ada pendapat
dilontarkan ke hadapan publik. Kemudian muncul tentangan terhadap pendapat
tersebut. Kedua posisi yang saling bertentangan ini didamaikan dengan sebuah
pendapat yang lebih lengkap. Dari fenomen dialog ini dapat dilihat tiga tahap
yakni tesis, antitesis dan sintesis. Tesis disini dimaksudkan sebagai pendapat
awal tersebut. Antitesis yakni lawan atau oposisinya. Sedangkan Sintesis
merupakan pendamaian dari keduanya baik tesis dan antitesis. Dalam sintesis ini
terjadi peniadaan dan pembatalan baik itu tesis dan antitesis. Keduanya menjadi
tidak berlaku lagi. Dapat dikatakan pula, kedua hal tersebut disimpan dan
diangkat ke taraf yang lebih tinggi. Tentunya kebenaran baik dalam tesis dan
antitesis masih dipertahankan. Dalam kacamata Hegel, proses ini disebut sebagai
aufgehoben.
Bentuk triadik dari dialektika Hegel yakni tesis-antitesis-sintesis
berangkat dari pemikir-pemikir sebelum Hegel. Antinomi Kantian akan numena dan
fenomena menimbulkan oposisi yang tidak terselesaikan[1]. Kemudian Fichte
dengan metode ”Teori Pengetahuan”-nya tetap memunculkan pertentangan walaupun
sudah melampaui sedikit apa yang dijabarkan oleh Kant.
Dialektika sendiri sudah dikenal dalam pemikiran Fichte. Bagi Fichte,
seluruh isi dunia adalah sama dengan isi kesadaran. Seluruh dunia itu
diturunkan dari suatu asas yang tertinggi dengan cara sebagai berikut: ”Aku”
meng-ia-kan dirinya (tesis), yang mengakibatkan adanya ”non-Aku” yang
menghadapi ”Aku”. ”non Aku” inilah antitesis. Kemudian sintesisnya adalah
keduanya tidak lagi saling mengucilkan, artinya: kebenaran keduanya itu
dibatasi, atau berlakunya keduanya itu dibatasi. ”Aku” menempatkan ”non-Aku
yang dapat dibagi-bagi” berhadapan dengan ”Aku yang dapat dibagi-bagi”.
Dalam sistem filsafatnya, Hegel menyempurnakan Fichte. Hegel memperdalam
pengertian sintesis. Di dalam sintesis baik tesis maupun antitesis bukan
dibatasi (seperti pandangan Fichte), melainkan aufgehoben. Kata Jerman ini
mengandung tiga arti, yaitu: a) mengesampingkan, b) merawat, menyimpan, jadi
tidak ditiadakan, melainkan dirawat dalam suatu kesatuan yang lebih tinggi dan
dipelihara, c) ditempatkan pada dataran yang lebih tinggi, dimana keduanya
(tesis dan antitesis) tidak lagi berfungsi sebagai lawan yang saling
mengucilkan. Tesis mengandung di dalam dirinya unsur positif dan negatif. Hanya
saja di dalam tesis unsur positif ini lebih besar. Sebaliknya, antitesis
memiliki unsur negatif yang lebih besar. Dalam sintesislah kedua unsur yang
dimiliki tesis dan antitesis disatukan menjadi sebuah kesatuan yang lebih
tinggi.
Dialektika juga dimaksudkan sebagai cara berpikir untuk memperoleh
penyatuan (sintesis) dari dua hal yang saling bertentangan (tesis versus
antitesis). Dengan term aufgehoben, konsep ”ada” (tesis) dan konsep ”tidak ada”
(antitesis) mendapatkan bentuk penyatuannya dalam konsep ”menjadi”
(sintesis)[2]. Di dalam konsep ”menjadi”, terdapat konsep ”ada” dan ”tidak ada”
sehingga konsep ”ada” atau ”tidak ada” dinyatakan batal atau ditiadakan.
Dialektika menjadi sebuah perkembangan Yang Absolut untuk bertemu dengan
dirinya sendiri. Ide yang Absolut merupakan hasil perkembangan. Konsep-konsep
dan ide-ide bukanlah bayangan yang kaku melainkan mengalir. Metode dialektika
menjadi sebuah gerak untuk menciptakan kebaruan dan perlawanan. Dengan tiga
tahap yakni tesis, antitesis dan sintesis setiap ide-ide, konsep-konsep (tesis)
berubah menjadi lawannya (antitesis). Pertentangan ini ”diangkat” dalam satu
tingkat yang lebih tinggi dan menghasilkan sintesis. Hal baru ini (sintesis)
kemudian menjadi tesis yang menimbulkan antitesis lagi lalu sintesis lagi.
Proses gerak yang dinamis ini sampai akhirnya melahirkan suatu universalitas
dari gejala-gejala. Itulah Yang Absolut yang disebut Roh dalam filsafat Hegel.
Bagi Hegel, unsur pertentangan (antitesis) tidak muncul setelah kita
merefleksikannya tetapi pertentangan tersebut sudah ada dalam perkara itu
sendiri. Tiap tesis sudah memuat antitesis di dalamnya. Antitesis terdapat di
dalam tesis itu sendiri karena keduanya merupakan ide yang berhubungan dengan
hal yang lebih tinggi. Keduanya diangkat dan ditiadakan (aufgehoben) dalam
sintesis.
Kenyataan menjadi dua unsur bertentangan namun muncul serentak. Hal
ini tidak dapat diterima oleh Verstandyang bekerja berdasakan skema-skema yang
ada dalam menangani hal-hal yang khusus. Vernunft-lah yang dapat memahami hal
ini. Vernunft melihat realitas dalam totalitasnya dan sanggup membuat sintesis
dari hal-hal yang bertentangan. Identifikasi sebagai realitas total menjadi
cara kerja Vernunft yang mengikuti prinsip dialektika.
Secara umum dapat kita lihat bahwa dialektika Hegel memiliki tiga aspek
yang perlu diperhatikan[3]. Pertama, sistem dialektika ini berbentuk tripleks
atau triadik. Kedua, dialektika ini bersifat ontologis sebagai sebuah konsep.
Aplikasinya adalah terhadap benda dan benduk dari ada dan tidak sebatas pada
konsep. Ketiga, dialektika Hegel memiliki tujuan akhir (telos) di dalam konsep
abstrak yang disebut Hegel sebagai Idea atau Idea Absolut dan konkretnya pada
Roh Absolut atau Roh (Spirit, Geist).
Terdapat tiga elemen esensial akan dialektika Hegel[4]. Pertama, berpikir
itu memikirkan dalam dirinya untuk dan oleh dirinya sendiri. Kedua, dialektika
merupakan hasil berpikir terus menerus akan kontradiksi. Ketiga, kesatuan
kepastian akan kontradiksi tersublimasi di dalam kesatuan. Itulah kodrat akan
dirinya dialektika itu sendiri.
3 tahap proses
dialektis
Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
- Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia
mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui ekstemalisasi
ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
- Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat
menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari
manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan
segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku
manusia.
- Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat
disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali
masyarakamya sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia
menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.